Dari Gea untuk Rea.

--

Setelah mengikuti acara perpisahan sekolahnya Rea kini sudah sampai dirumah sakit tempat kakaknya dirawat. Beberapa waktu silam ia dikabari oleh Tara bahwa kakaknya pingsan ditempat kerja. Rea berpikir mungkin kakaknya ini kelelahan karna harus bekerja di dua tempat dalam jarak waktu yang lumayan berdekatan.

“Kak” panggil Rea sembari membuka pintu ruangan tempat kakaknya dirawat.

“Eh udah selesai?” tanya Gea.

“Udah”

“Oh iya nih mie ayam makan dulu” ucap Rea sembari menyerahkan kantong plastik berwarna biru itu.

Gea tersenyum sembari menerima kantong plastik itu.

Selesai makan Gea menyerahkan sebuah benda pipih berbentuk kartu kepada Rea.

“Nih”

“Apaan? buat main timezone?” tanya Rea.

Gea tertawa mendengar lelucon adiknya ini, “Udah mau kuliah masih bego aja lo, ini buat lo gunain baik-baik, kalo gue udah gaada lo punya pegangan” balas Gea.

“Ngaco lo kak”

Gea hanya tertawa melihat adiknya yang ketakutan.

“Ga lucu” balas Rea.

Kini ruang rawat itu hanya diterpa keheningan beberapa saat.

“Kak, gue cuma punya lo. Kalo lo gaada gue sama siapa?”

“Kalo lo gaada ngapain gue hidup, ngapain gue dapet beasiswanya kalo lo udah gaada”

Gea terdiam mendengar ucapan Rea, ia baru sadar bahwa ialah yang dibutuhkan oleh adik semata wayangnya ini. Bukan uang atau yang lainnya.

“Gue bakal sembuh”

“Harus”

“Iyaiya yaudah lo jangan nangis” ucal Gea sembari mengelap air mata yang jatuh dipipi adikya.

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

--

--

No responses yet